Rukun Pertama : Syahadatain | Penjelasan Tentang Syahadat Bahwa Muhammad Adalah Rasulullah


PENJELASAN TAMBAHAN TENTANG SYAHADAT BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASULULLAH

Telah disebutkan di atas bahwa syahadat Rasul (bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah) termasuk dalam syahadat tauhid (bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hag selain Allah) secara hakikat maupun pengertiannya. Maka seluruh uraian mengenai makna syahadat telah mencakup kedua syahadat tersebut, meskipun hanya disebut syahadat yang satu yaitu:

Hanya saja disini syahadat bahwa Muhammad Rasulullah disertakan dengan syahadat yang pertama karena memiliki hikmah dan kandungan pengertian yang dalam yang ditunjukkannya, di antaranya:

1. Ia sebagai bukti mencintai Nabi Muhammad.

Cinta kepada Rasulullah adalah pangkal keimanan seseorang, ia tidak akan menjadi mukmin yang benar kecuali dengan mencintai Rasulnya dan iman seseorang tidak mungkin kesampaian kecuali dengan mencintainya. Sesuai dengan sabda Rasulullah :

“Demi Dzat yang jiwaku ada di GenggamanNya, tidaklah beriman seseorang di antaramu sehingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya. ” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Mengikuti dan patuh kepada beliau, inilah yang dituntut dari mahabbah dan beriman kepada beliau.

Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ قُلْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Ta’atilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (Ali Imran: 31-32)

Maka jika ada seseorang yang berkeyakinan bahwa seseorang boleh keluar atau tidak mengikuti ajaran beliau, atau ia beribadah kepada Allah dengan tidak mengikuti ajaran yang beliau perintahkan, berarti ia telah kafir. Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. “ (An-Nisa’: 64)

3. Mempercayai beliau dan membenarkan seluruh ajaran yang dibawanya.

Barangsiapa yang menolak sebagian ajaran beliau dan mendustakannya, maka ia telah kafir. Apakah penolakannya itu karena mengikuti hawa nafsu atau mengikuti ajaran yang telah dihapus (oleh Islam) atau filsafat atau undang-undang manusia.

Allah it berfirman:

وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zumar: 33)

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنزَلْنَا

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan.” (At-Taghabun: 8)

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

“Demi jiwaku yang ada di genggamanNya, tidaklah seorang Yahudi yang mendengar ajaranku juga orang Nasrani kemudian ia tidak beriman kepadaku, kecuali ia termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim)

Yang demikian itu berlaku bagi ahli kitab, bagaimana dengan yang selainnya, tentu lebih berhak lagi untuk masuk Neraka.

4. Mengambil hukum beliau dalam setiap urusan, tidak mendahulukan ucapan, hukum atau pendapat orang siapapun dia terhadap perkataan dan hukum beliau.

Allah berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah.” (Al-Hujurat: 1)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab : 36)

Dengan demikian, orang yang menetapkan hukum dengan undang-undang buatan manusia atau pendapat-pendapat jahiliyah berarti ia telah membatalkan syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

5. Tidak menyembah atau beribadah kepada Allah kecuali dengan ajaran yang telah disyariatkanNya.

Yaitu dengan berpegang teguh pada sunnah-sunnah NabiNya, dan senantiasa melaksanakan petunjuk-petunjuknya pada setiap urusan, serta meninggalkan larangannya berupa bid’ah dan ajaran-ajaran baru dalam urusan agama, meskipun dengan dugaan pelakunya bahwa cara itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan senantiasa mengambil contoh dari  perilaku Nabi.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. “ (An-Nisa’: 115)

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasar perintah dari kami maka ia itu ditolak.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa mengada-adakan di dalam agama ini sesuatu yang bukan bagian darinya maka ia itu ditolak” (HR. Al-Bukhari)

“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas (ajaran) yang putih (bersih) malamnya seperti siangnya, tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang yang binasa. “(HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah, Al-Mundziri berkata: “Isnadnya hasan”).

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk dan sunnahnya hingga datang hari Kiamat. Amin.

Sumber :Panduan Praktis Rukun Islam, Darul Haq, Jakarta. Cetakan I, Rajab 1422 H. / Oktober 2001 M.

Artikel TigaLandasanUtama.WordPress.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s