Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah II | Al-Wala’ Wa Al-Bara’


الثالثةُ : أنَّ من أَطَاعَ الرسولَ وَوَحَّدَ اللهَ لا يجوز له مَوَالاَةُ مَن حادَّ الله ورسولهَ ولو كان أَقْرَبَ قَرِيبٍ. والدليلُ قوله تعالى : لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Ketiga: Barangsiapa mentaati Rasul dan mentauhidkan Allah maka ia tidak boleh berwala’ (memberikan loyalitas) kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabatnya yang paling dekat. Dalilnya adalah Firman Allah ta’ala : “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. [Al-Mujadilah : 22]

Perkataan penulis,

“Ketiga: Barangsiapa yang mentaati Rasul dan mentauhidkan Allah maka ia tidak boleh memberikan loyalitasnya kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.”

Ini adalah perkara yang ketiga,  perkara ini berkaitan dengan wala’ dan bara’. Artinya barangsiapa yang mentaati apa yang  diperintahkan oleh Rasul, menjauhi apa yang dilarang dan dibenci olehnya, dan dia pun men-tauhid-kan Allah, -inilah yang disebut aqidah Islam-. (Maka dia harus mengamalkan aqidah Al-Wala’ dan Al-Bara’ ini -edt). Karena termasuk dari pondasi aqidah adalah menunjukkan sikap loyal (wala’) kepada para ahli tauhid serta membenci (bara’)  pelaku syirik dan memusuhinya. Allah berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [QS. Al-Mumtahanah ayat 4]

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud Rasulullah bersabda:

أوثق عرى الإيمان : الحب في الله والبغض في الله

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Thabarany dalam Kitab Al Kabir (10531, 10531). Hadits ini dihasankan oleh Al-Albany dalam ta’liqnya terhadap kitab Al Iman karya Ibnu Abi Syaibah.(hal 45)]

Cinta dan loyalitas karena Allah dan memusuhi karena Allah termasuk konsekuensi millah Ibrahim Alaihi shalatu was salaam, juga termasuk konsekuensi dari Agama Muhammad ‘Alaihi shalatu was salaam. Dan dalil untuk perkara yang kedua ini adalah firman Allah yang disebutkan oleh Syeikh.

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,” [QS. Al-Mujadilah ayat 22]

Perkataan penulis:

“Tidak boleh memberikan loyalitasnya kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya…”

“Memusuhi Allah dan RasulNya” artinya menentangNya. Arti [المحادة] almuhaadah secara bahasa ialah kamu berada di satu sisi dan lawanmu berada di sisi lain. Dan tidak diragukan lagi bahwa siapa pun yang tidak menta’ati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya itu membuktikan bahwa ia memusuhi Allah dan RasulNya. Seakan-akan dia dengan sikap berpalingnya itu menempatkan dirinya berada di satu sisi, sedangkan Allah dan RasulNya berada di sisi yang lain.

Sedangkan makna [الموالاة] al-muwalat adalah saling mempercayai, menyayangi, mencintai dan merasa dekat dengannya.

Perkataan penulis:

…walaupun kerabat dekat sendiri.”

Yaitu anak dan orang tua, karena mereka adalah orang yang terdekat yang berkaitan dengan keturunan. Kemudian saudara-saudara kandung, mereka adalah penolong. Setelah itu disebutkan keluarga yang lain. Akan tetapi dalam wala’ dan bara’ kekeluargaan tidak ada pengaruhnya. Saudaramu satu aqidah adalah saudaramu yang sebenarnya. Musuhmu yang sebenarnya adalah musuhmu dalam aqidah. Saudaramu seaqidah adalah saudaramu yang sebenarnya, walaupun ia berada di belahan bumi yang jauh. Sedangkan musuhmu yang sebenamya adalah musuhmu dalam aqidah walaupun ia kerabatmu yang terdekat. Dalam timbangan Islam yang menjadi barometer adalah aqidah, bukan faktor keturunan. Oleh karena itu Allah menekankan makna ini seraya menyebutkan beberapa kerabat tersebut.

Perkataan penulis:

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Firman Allah [لَا تَجِدُ قَوْماً]. Kata kerja [لَا تَجِدُ] laa tajidu dengan men-dhommah-kan huruf dal, jika berbaris dhammah maka maknanya adalah penafian. Ulama Balaghah berkata: “Kalimat nafi (penafian) lebih tegas dari pada kalimat nahi (pelarangan). Karena nahi berkaitan dengan masa yang akan datang, sedangkan nafi berkaitan dengan masa yang lalu dan yang akan datang. Maka makna ayat tersebut ialah kapanpun kamu tidak akan pernah menjumpai orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhirat sementara dia mencintai orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Makna [يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ] yaitu beriman dengan keimanan yang benar lahir maupun batin. Faedah ayat ini bahwa permusuhan terhadap orang kafir merupakan barometer iman kepada Allah dan hari akhir. Oleh karena itu wajib atas seorang insan mengukur tingkat keimanannya. Jika ternyata ia lebih condong kepada musuh Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah ia kembali dan mengoreksi keimanannya, karena kecondongan kepada mereka adalah tanda-tanda hilangnya iman atau lemahnya iman sesuai dengan besar kecilnya kecondongan tersebut. Bagaimana pun kondisinya, memberikan loyalalitas (kesetiaan) kepada mereka adalah perkara yang berbahaya. Karena Allah menafikan berkumpulnya keimanan dengan rasa cinta terhadap mereka, Allah berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,”

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah mengabarkan kepadamu bahwa kamu tidak akan menjumpai seorang yang beriman, mencintai orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, karena iman itu sendiri bertolak belakang dengan kecintaan kepada musuh Allah dan rasul-Nya, sebagaimana bertolak belakangnya dua hal yang berlawanan. Jika didapati keimanan berarti tidak terdapat lawannya, yaitu mencintai musuh Allah. Jika seseorang menunjukkan loyalitas kepada musuh Allah dengan sepenuh hati ini pertanda bahwa tidak ada lagi keimanan di dalam hatinya.” [Al-Iman, hal. 13]

Firman Allah:

وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”. Yakni, mereka tidak akan mencintai musuh Allah dan Rasul-Nya walaupun kerabat yang terdekat.

Firman-Nya [أَوْ عَشِيرَتَهُمْ] berkata Ar-Raghib: “‘Asyiirah adalah kumpulan sekelompok orang dari kalangan keluarga dalam jumlah yang banyak.”. [Al Mufradaat fi ghariibil Qur’an karya Ar Raghib Al Ashfahany (hal 335).]

Al-Aluusy berkata: “Maksud ayat tersebut bukanlah yang hanya disebutkan, maksudnya adalah kerabat secara mutlak. Sang ayah didahulukan karena wajib bagi sang anak untuk mentaati mereka dan bersikap baik terhadap mereka. Yang kedua disebutkan sang anak, dikaitkan dengan si anak karena mereka adalah buah hati sang ayah. Yang ketiga disebutkan saudara-saudara karena mereka adalah penolongnya. Kemudian disudahi dengan keluarga karena tempat bersandar dan tempat meminta pertolongan kepada mereka setelah saudara.” [Ruhul Ma’any (928/36)]

Firman Allah :

أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalanmya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.

Kemudian Allah memberi mereka lima macam ganjaran yang dimulai dengan menganugerahkan taufiq semasa hidup di dunia.

Firman-Nya [أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ] Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yakni mengumpulkan, mengokohkan dan menanamkan keimanan di dalam hati mereka, hati seorang mukmin yang tak terpengaruhi oleh syubhat dan keraguan.

[وَأَيَّدَهُم] dan memberi mereka pertolongan yakni memperkuat mereka. [بِرُوحٍ مِّنْهُ] dengan cahaya, hidayah dan pertolongan ilahi serta kebaikan Rabbnya. Allah Ta’ala menamakannya dengan ruuh karena ruuh adalah sebab untuk mencapai kehidupan yang baik.

Kemudian Allah menyebutkan rahmatnya yang akan Dia berikan di akhirat dengan firman-Nya:  [وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا]  Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya yaitu kampung yang penuh dengan kemuliaan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pemah terlintas dalam hati manusia.

[رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ] Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Kalimat yang baru ini menjelaskan suatu alasan, maknanya bahwa Allah meridhai mereka, karena ketaatan yang telah mereka kerjakan sewaktu hidup di dunia. [وَرَضُوا عَنْهُ] mereka juga ridha kepada Allah karena di akhirat Allah memasukkan mereka ke dalam jannah yang di dalamnya terdapat berbagai kemuliaan dan ini merupakan kenikmatan yang tertinggi.

Ibnu Katsir berkata: “ini merupakan puncak kegembiraan yaitu ketika semua karib kerabat membenci mereka, Allah menggantikannya dengan memberikan keridhaan-Nya kepada mereka dan mereka juga ridha terhadap kenikmatan yang kekal, kemenangan yang besar dan keluasan fadhilah yang diberikan Allah.

Firman Allah :

أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. 58:22)

[أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ] Mereka itulah golongan Allah. Di-idhafah-kan sebagai penghormatan atau untuk menerangkan kekhususan mereka di sisi Allah. [أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ] Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung yaitu yang menang, beruntung dan yang berhasil meraih kebahagian dunia dan akhirat. Dikatakan hizbullah, pertama karena mereka mempunyai posisi khusus di sisi Allah, yang kedua mereka mendapatkan keistimewaan berupa kesenangan di dunia dan akhirat.

Indikasi adanya loyalitas terhadap orang kafir amat banyak gejalanya dari zaman ke zaman. Dan akan kami sebutkan beberapa indikasi yang penting, jika seorang muslim melihat salah satu indikasi tersebut ada pada dirinya berarti ia memberikan loyalitasnya kepada orang kafir sesuai dengan kadar yang telah ia lakukan.

Firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”

Di antara indikasi yang terlihat jelas:

Pertama: Ridha dengan kekafiran mereka serta tidak mengkafirkan mereka atau ragu atas kekafiran mereka atau membenarkan semua agama kafir.

Kedua: Menyerupai kebiasaan, akhlak dan mengikuti mereka, tidaklah seseorang menyerupai orang kafir melainkan karena ia mengagumi mereka, sedangkan Rasulullah bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” [Hadits riwayat Abu Daud (no 4031)Ahmad (9/123) dan lainnya. Hadits ini mempunyaibanyak jalan dan syawahid yang membutnya lebih kuat.]

Ketiga: Meminta bantuan dan mempercayai mereka serta menjadikan mereka sebagai penolong.

Keempat: Membantu dan mendukung mereka.

Kelima: Turut andil dalam memeriahkan hari-hari besar mereka baik menghadirinya atau memberikan ucapan selamat.

Keenam: Memberi nama dengan nama-nama mereka.

Ketujuh: Bepergian ke negeri mereka dengan tanpa keperluan seperti untuk berwisata atau tamasya.

Kedelapan: Memintakan ampun untuk mereka atau memintakan rahmat jika ada di antara mereka yang meninggal.

Kesembilan: Bertoleransi dalam masalah agama.

Kesepuluh: Mengambil hukum dan aturan mereka dalam mengatur negara dan mendidik rakyatnya.

Ini adalah beberapa indikasi adanya loyalitas kepada orang-orang kafir. Permasalahan ini membutuhkan penjelasan yang lebih rinci.

Dan apa yang telah kita sebutkan sudah cukup insya Allah. [Lihat kitab Al Wala’ wal Bara’ Fil Islam. Karya Muhammad Bin Sa’id Al Qahthany.]

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s