Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah | Dalil Wajibnya Berilmu, Beramal, Berdakwah dan Sabar


Dalilnya adalah firman Allah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ | وَالْعَصْرِ – إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ – إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103 :1-3)

قال الشافعي – رحمه الله تعالى – (لو ما أنزل الله على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم)

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas makhkuk-Nya selain surat ini niscaya telah cukup.”

وقال البُخَاريُ رحمه اللهُ تعالى : بابٌ : العِلْمُ قَبْلَ القولِ والعَمَلِ، والدليلُ قوله تعالى :  [فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ]  فبدأ بالعلمِ قبلَ القولِ والعملِ

Al-Bukhari berkata: Bab: Al-‘Ilmu qablal Qaul Wal ‘Amal (Berilmu sebelum berkata dan berbuat). Dalilnya adalah firman Allah : “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. 47:19) Allah memulainya dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan..

Perkataan penulis:

dan dalilnya firman Allah : [وَالْعَصْرِ – إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ – إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ] “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr : 1-3]

Dalam penetapan keempat perkara di atas penulis berdalil dengan satu surat yang agung dan tidak lebih dari tiga ayat yaitu surat Al-‘Ashr.

Dalil perkara yang pertama dan kedua adalah firman Allah Ta’ala: [إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ] “… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih…” karena keimanan tidak akan benar dan amalan tidak dianggap shalih kecuali jika berdasarkan ilmu sehingga dia menyembah Allah Ta’ala dengan bashirah (ilmu).

Dalil perkara yang ketiga adalah firman-Nya: [وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ] “…  dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran …”, dan

Dalil perkara yang keempat adalah firman-Nya: [وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ] “… dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Firman Allah Ta’ala: [وَالْعَصْرِ] “Demi masa.” ini adalah sumpah, yang dimaksud dengan al-‘ashr adalah zaman; yang terjadi di dalamnya peristiwa yang baik dan yang buruk. Allah Ta’ala bersumpah dengan zaman/masa karena segala perbuatan dan tingkah laku manusia terjadi di dalam ruang lingkup masa. Masa adalah tempat manusia melakukan segala perbuatannya, jika perbuatannya baik maka baik pula masanya dan jika jelek maka jelek pula masanya, maka sudah pantas Allah bersumpah dengan masa tersebut.

Ada yang mengatakan al-‘ashr adalah waktu sore yakni penghujung siang, termasuk juga di dalamnya shalat Ashar. Akan tetapi Pendapat pertama lebih mendekati makna ayat, Allahu a’lam.

Jawab sumpahnya adalah firman-Nya: [إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ] “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,“, Allah bersumpah dengan masa bahwa manusia berada dalam kerugian. Manusia berada dalam kerugian.

Alif-lam (dalam kalimat Al-Insaan الْإِنسَانَ ) fungsinya sebagai istighraq dan syumul, artinya mencakup semua jenis manusia. Dalilnya adalah pengecualian yang disebutkan sesudahnya. Yakni semua manusia tanpa kecuali berada dalam kerugian. Seperti dalam firman Allah:

وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” [An-Nisaa’ : 28].

[الخسر] Al khusr maknanya kerugian dan kebinasaan; karena kehidupan seorang insan adalah modal utamanya, jika ia mati tanpa beriman dan beramal shalih maka ia telah merugi dengan kerugian yang besar.

Allah Ta’ala menyebutkan kerugian tersebut secara mutlak, tidak menerangkan jenis dan bentuk dari kerugian itu. Boleh jadi jenis kerugian tersebut adalah kerugian di dunia dan akhirat serta luput dari kenikmatan dan dimasukkan ke dalam neraka, atau rugi dari beberapa sisi saja.

Dari ayat di atas dapat diambil faedah bahwa kerugian tersebut bisa berupa kekufuran –wal’iyadzubillah-. Firman Allah

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az-Zumar : 65]

Firman-Nya:

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَاء اللّهِ

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang telah mendustakan pertemuan mereka denganAllah” [QS. Al-An’am ayat 31.]

Atau kerugian tersebut karena meninggalkan amal. Firman Allah :

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

“Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam naar jahannam.” [QS. Al-Mukminun ayat 103.]

Dan Firman Allah

وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيّاً مِّن دُونِ اللّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَاناً مُّبِيناً

“Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” [QS.An-Nisa’ ayat 119.]

Firman-Nya:

أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.” [QS. Al-Mujadalah ayat 19.]

Atau karena sama sekali tidak saling menasehati dalam kebaikan dan justru bahu membahu dalam kebatilan. Tidak ada lagi setelah kebenaran melainkan kebatilan. Atau sama sekali tidak saling menasihati dalam kesabaran atau suka berkeluh kesah. Firman Allah

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” [Lihat Adhwaul Bayan Tatimmatu 9/495 Tafsir Ibnu Sa’ady (5/453). QS. Al-Hajj ayat 11.]

Maksud surat tersebut adalah bahwasanya seorang insan selalu berada dalam kerugian walaupun mempunyai harta dan anak yang banyak, mempunyai kemampuan dan kehormatan yang tinggi, kecuali mereka yang mempunyai empat karakter ini. Maka seorang insan hendaklah memperhatikan kondisi dirinya dan harus benar-benar yakin bahwa ia tidak akan selamat dari kerugian kecuali melalui jalan yang telah digariskan Allah Ta’ala.

Firman-Nya [إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا], ini adalah karakter pertama bagi orang yang selamat dari kerugian yaitu “beriman.” Makna ayat tersebut ialah: kecuali orang yang beriman dengan perintah Allah. Yang termasuk dalam kategori iman adalah beriman kepada Allah Ta’ala, beriman kepada malaikat, kitab-kitab dan para nabi, dan setiap yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dari keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.

Firman-Nya [وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ] yang dimaksud dengan amal shalih adalah semua perbuatan baik yang lahir dan yang batin, baik yang berkaitan dengan hak-hak Allah Ta’ala atau yang berkaitan dengan hak-hak manusia atau baik yang hukumnya wajib maupun sunnah yang dikerjakan ikhlas karena-Nya dan dikerjakan dengan benar (sesuai sunnah).

Firman-Nya [وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ] yang dimaksud dengan kebenaran dalam ayat ini —Allahu a’lam– ialah beriman kepada Allah dan beramal shalih.

Firman-Nya[وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ] seluruh jenis kesabaran. Bersabar dalam mentaati Allah Ta’ala, dalam melaksanakan keawajiban-Nya dan dalam memenuhi hak-hak-Nya maupun hak para hamba-Nya. Ini semua memerlukan kesabaran. Kemudian sabar dalam menjauhi kemaksiatan terhadap Allah Ta’ala, karena nafsu itu senantiasa menyuruh untuk berbuat jelek, maka hendaklah seorang insan menjaga kesabarannya agar jangan sampai terperosok dalam kedurhakaan.

Di antara hal-hal yang termasuk kategori sabar ialah bersabar untuk tidak berfoya-foya ketika mendapat nikmat yang banyak. Ketika mendapat nikmat yang banyak, hendaklah seorang insan itu bersabar agar tidak berfoya-foya, berlebih-lebihan dan menjauhi sikap boros.

Termasuk sikap sabar adalah bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpa. Yaitu apa-apa yang menimpa manusia di dunia dari berbagai musibah dan rintangan.

Perkataan penulis:

Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada makhluk-Nya melainkan surat niscya sudah cukup bagi mereka.”

Makna pekataan Imam As-Syafi’i -rahimahullah- adalah kalau sekiranya Allah tidak menurunkan kepada manusia suatu tuntunan dan jalan kecuali surat pendek yang hanya berisi tiga ayat ini niscaya sudah cukup. Karena ayat-ayat ini merangkum jalan yang telah digariskan Allah Ta’ala menuju keselamatan yaitu iman, amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Inilah empat perkara yang dapat membuahkan keselamatan.

Seandainya Allah Ta’ala tidak menurunkan apa-apa kecuali surat ini niscaya mereka yang menginginkan petunjuk Allah Ta’ala mengetahui bahwa tiada keselamatan melainkan dengan beriman, beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini merupakan keajaiban, tidak ada yang dapat mengukurnya kecuali Allah Ta’ala. Satu ayat saja dapat menerangkan tugas umat Islam, yaitu sating menasehati dalam kebenaran dan kesabaran setelah beriman dan beramal shalih.

Betapa agungnya surat ini, oleh karena itu ketika Syeikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menukil perkataan Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah-, beliau berkata: “Memang demikianlah adanya —yakni yang dikatakan Asy-Syafi’i -rahimahullah--. Allah mengabarkan bahwa semua manusia merugi kecuali yang beriman, beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.[Majmu’ Fatawa (28/152). Lihat At-Tibyan karya Ibnul Qayyim (hal 62).]

Apa yang disebutkan penulis tidak berbeda dengan apa yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir -rahimahullah- yakni perkataan Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Kalau manusia menghayati surat ini tentunya sudah cukup bagi mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir (8/499).]

Wallahu A’lam.

Perkataan penulis :

“Al-Bukhary -rahimahullah- berkata: -yakni dalam Kitab Al-‘Ilmi dalam Shahih-nya- Bab: Al-‘Ilmu qablal Qaul Wal ‘Amal (Berilmu sebelum berkata dan berbuat). Dalilnya adalah firman Allah : …

Kata [بابٌ] Baab dibaca “baabun” bertanwin karena tidak di-idhofahkan. Al-ilmu: Mubtada’ dan perkataan: “Qablal qauli...dst” adalah Khabar Mubtada’. Maknanya bahwa perkataan dan perbuatan manusia tidak ada nilainya dalam pandangan syari’at kecuali jika berlandaskan dengan ilmu. Berarti ilmu merupakan syarat sahnya suatu perkataan dan perbuatan.

Perkataan penulis “Dan Dalilnya” ini adalah perkataan Al-Bukhary. Dalam kitab shahihnya beliau mengatakan:

بابٌ : العلم قبل القول والعمل لقول الله تعالى

“Bab: Al-‘IImu qablal Qauli Wal ‘Amal, liqaulillah Ta’ala” [Lihat Shahih Bukhary (1 / 159-Al-Fath)]

Artinya Bab: Berilmu sebelum berkata dan berbuat, dasamya adalah firman Allah Ta’ala:…” Namun Syaikh mengibaratkan dengan mengatakan dan dalilnya agar kalimatnya lebih jelas.

Perkataan penulis :

Dalilnya adalah firman Allah : فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ  “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad :19) Allah memulainya dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.

Ini juga perkataan Imam Al-Bukhary, namun dalam shahihnya hanya termaktub ([فبدأ بالعلمِ] fa bada-a bil ilmi) tidak terdapat kalimat ( [قبلَ القولِ والعملِ] qabla qauli wal ‘amal). Kemungkinan kalimat ( [قبلَ القولِ والعملِ] qabla qauli wal ‘amal) adalah ucapan Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab atau ucapan Imam Al-Bukhary yang ada dalam naskah lain.

Dan Firman-Nya: “فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ” ditujukan kepada Rasulullah dan juga mencakup seluruh umat. Ini merupakan perintah untuk berilmu.

Firman-Nya: “وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ” merupakan perintah untuk beramal. Sejumlah ulama salaf menggunakan ayat ini sebagai dalil tentang fadhilah (Keutamaan) ilmu.

Abu Nu’aim  mencantumkan dalam bukunya Al-Hilyah dari Sufyan Bin ‘Uyainah bahwa beliau ditanya tentang fadhilah ilmu, beliau menjawab: “Tidakkah engkau mendengar Firman Allah ketika memulai ayat  “فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ” kemudian Dia memerintahkan untuk beramal dengan firman-Nya: “وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ”.” [Hilyatul Auliya’ (8/305).]

Bentuk pengambilan dalil dari ayat ini tentang keistimewaan ilmu adalah bahwa Allah Ta’ala memulai Firman-Nya dengan ilmu dan menyuruh Nabi-Nya agar memulai dengan ilmu sebelum memerintahkan untuk beramal. Hal ini menunjukkan kepada kita dua perkara:

  • Pertama: Tentang fadhilah ilmu.
  • Kedua: ilmu lebih didahulukan daripada amal.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s