Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah | Mendakwahkan Ilmu


الثالثة : الدعوة إليه

Yang ketiga: mendakwahkannya.

Perkataan Penulis :

Yang ketiga: mendakwahkannya…

Yaitu menyeru untuk mentauhidkan Allah serta mentaati-Nya. Dan ini adalah tugas para rasul dan pengikutnya. Allah berfirman:

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakantah:  “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata”  [QS. Yusuf ayat 108]

Karna manusia jika sempurna potensi ilmiyahnya dengan ilmu yang ada padanya dan sempurna potensi ‘amaliyahnya dengan amalnya, maka ia akan berusaha untuk menyebarkan kebaikan tersebut kepada orang lain guna mengikuti langkah para Rasul Allah –‘alaihimussalam-.

Berdakwah di jalan Allah adalah perkara yang agung dan besar pahalanya sebagaimana sabda Rasulullah

فو الله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً خير لك من حُمْر النعم

“Demi Allah, bahwa Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui dakwahmu, itu lebih baik bagimu dari pada unta merah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary (4210) dan Muslim (2406)]

Dakwah bisa dilakukan baik dengan perkataan ataupun perbuatan.

Misalnya, seorang muslim yang mengerjakan apa yang diperintahkan dalam Syari’at maka orang ini dengan perbuatannya tersebut telah melakukan dakwah. Dia memberi pengarahan bagi kaum muslimin lainnya untuk mengerjakan apa yang disyari’atkan tersebut meskipun tanpa berbicara kepada merka.

Adapun dakwah dengan lisan bisa jadi merupakan sebuah kewajiban bagi seseorang dan bisa jadi hanya sebatas mustahab saja. Cabang-cabang dari dakwah dengan lisan sangat banyak sekali, diantaranya : Dakwah dengan menulis atau menyusun kitab, atau risalah atau yang semisalnya. Termasuk juga dengan memberikan nasihat dan wejangan dan yang semisal.

Dakwah yang merupakan perantara untuk perbaikan dan pembinaan tidak akan dapat dipetik hasilnya melainkan jika si da’i mempunyai karakter yang menjadi sebab diterimanya dakwah dan tampaknya pengaruh dakwah tersebut. Di antara sifat tersebut adalah:

  1. Taqwa : maksudnya mencakup semua makna yang berkaitan dengan pelaksanaan perintah dan menghindari larangan serta menghiasi diri dengan sifat-sifat ahlul iman.
  2. Ikhlas : hendaknya dalam berdakwah hanya mengharapkan wajah dan ridha Allah Ta’ala, berbuat baik kepada makhluk-Nya serta menjauhi sifat ingin terlihat lebih menonjol dibandingkan yang lain dan meremehkan orang yang didakwahi dengan menganggap bahwa mereka sebagai orang jahil (bodoh) dan serba kekurangan.
  3. Ilmu : hendaklah seorang da’i mempunyai ilmu tentang apa yang ia dakwahkan serta mempunyai pemahaman dari kitab dan sunnah Rasulullah dan sejarah para salafus Shalih.
  4. Lapang dada dan dapat mengendalikan diri di saat sedang marah, karena yang menjadi medan dakwah adalah dada dan jiwa manusia yang tentu mempunyai tabiat yang berbeda-beda sebagaimana berbedanya bentuk dan rupa manusia tersebut.
  5. Hendaknya memulainya dengan hal-hal yang terpenting sesuai dengan kondisi lingkungan mad’unya. Masalah-masalah akidah dan ushuluddin menempati tempat yang terpenting. Sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah kepada Mu’adz Bin Jabal

فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله

“Hendaknya perkara yang pertama sekali engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary (no 1395). Muslim (no 19) dalam Kitab Al-Iman.]

  1. Di dalam dakwahnya, ia harus menempuh metode yang ada landasannya dari Al-Qur’anul Karim. Allah berfirman:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” [QS. An-Nahl ayat 125]

[الْحِكْمَةِ] Hikmah adalah mengetahui kebenaran sekaligus mengamalkannya dan benar dalam perkataan dan perbuatan. Ini semua tidak akan didapati kecuali dengan memahami Al-Qur’an, fikih syariat Islam dan hakikat keimanan.

[الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ] Mau’izhah Hasanah adalah perintah dan larangan yang disertai dengan dorongan, ancaman dan berkata lembut serta antusias dalam memberikan pengarahan.

[وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ] yaitu tempuhlah jalan yang kira-kira akan mendapat sambutan yakni tetap teguh memegang kaidah dakwah dan menjauhkan diri dari reaksi-reaksi spontan yang nagatif serta tidak terjebak mendahulukan permasalahan kecil daripada perkara yang lebih besar, agar dapat mengefisiensikan waktu, menjaga kewibawaan diri dan kehormatannya.”  [Lihat buku Madarijus Salikin (2/478) Tafsir Ibnu Sa’dy (3/92). Risalah Mafhumil Hikmah Fi Dakwah karya Doktor Shalih Bin Humaid]

Sumber :

Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Syarah Syaikh Shalih alu Syaikh

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s