Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah | Kewajiban Mengamalkan Ilmu


 الثانية :  العمل به

Kedua: Mengamalkannya.

Perkataan penulis :

Yang kedua: beramal dengan ilmu (mengamalkan ilmu -ed)…

Yaitu beramal dengan ilmu tersebut. Karena ilmu tidak dicari kecuali untuk diamalkan yaitu mengubah ilmu tersebut menjadi sebuah perilaku nyata yang tercermin dalam setiap tindak tanduk dan pemikiran seorang manusia. Di dalam nash-nash syariat terdapat kewajiban mengamalkam ilmu dan pengaruh ilmu tersebut terlihat dalam diri si penuntut ilmu. Dan juga terdapat ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak membenahi diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Nash-nash tersebut tentunya sudah dikenal dan dimaklumi. [Lihat kitabku Al-‘Amal Bil ‘Ilmi cetakan pertama penerbit Darul Muslim.].

Kewajiban yang kedua, beramal dengan ilmu atau mengamalkan ilmu. Adapun meninggalkan kewajiban yang kedua ini memilki konsekuensi yang beragam tergantung hukum dari amalan yang ditinggalkan, bisa jadi merupakan sebuah kekufuran, perbuatan maksiat, perbuatan makruh ataupun mubah.

Meninggalkan beramal dengan ilmu yang merupakan kekufuran, seperti meninggalkan untuk mengamalkan tauhid. Seseorang mengetahui bahwasanya wajib mentauhidkan Allah dalam ibadah dan tidak boleh berbuat syirik, kemudian dia meninggalkan tauhid ini dengan melakukkan perbuatan syirik, mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, ia beribadah kepada makhluk yang tidak kuasa memberikan manfaat atau menolak bahaya. Dengan demikian dia telah terjatuh dalam kekufuran.

Meninggalkan beramal dengan ilmu yang merupakan maksiat, seperti melanggar salah satu larangan Allah. Seseorang mengetahui bahwasanya khamr itu diharamkan baik meminumnya, memperjual belikannya, menghidangkannya dan seterusnya. Kemudian dia meninggalkan ilmu ini dengan mengamalkan kebalikan dari ilmu ini, ia meminumnya atau menjualnya. Maka orang ini telah jatuh dalam keharaman dan telah berbuat maksiat.

Meninggalkan beramal dengan ilmu yang merupakan perbuatan makruh, seperti menyelisihi tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah tatacara ibadah. Seseorang telah mengetahui bahwasanya Rasulullah melakukan shalat dengan cara tertentu kemudian dia menyelisihinya, maka dengan penyelisihannya itu dia telah jatuh dalam perkara yang makruh.

Meninggalkan beramal dengan ilmu bisa jadi mubah. Seperti tidak mengikuti Rasulullah dalam perkara-perkara yang merupakan kebiasaan Rasulullah yang tidak disunnahkan atau diwajibkan bagi kita untuk menirunya, seperti tatacara berjalan, warna suara dan semisalnya.

Sungguh sangat bagus ucapan Al-Fudhail Bin ‘Iyadh :

(لا يزال العالم جاهلاً حتى يعمل بعلمه فإذا عمل به صار عالماً)

“Seorang alim tetap dikatakan jahil sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya maka barulah ia dikatakan seorang alim.”

Ucapan ini mengandung makna yang dalam. Seseorang mempunyai ilmu namun tidak diamalkan maka ia tetap dikatakan jahil (bodoh). Mengpa? Karena tidak ada yang membedakan antara dirinya dengan orang yang jahil (bodoh) jika dia memiliki ilmu tapi dia tidak mengamalkan ilmunya. Seseorang yang berlimu tidak dikatakan ‘alim/ulama yang tulen kecuali jika ia mengamalkan ilmunya.

Kemudian, amalan adalah hujjah bagi seseorang juga merupakan sebab mapan dan tetapnya ilmu tersebut pada dirinya. Oleh karena itu Anda mendapatkan seorang yang mengamalkan ilmunya dapat mengingat ilmu tersebut dengan baik. Adapun yang tidak mengamalkannya maka ilmu tersebut akan dengan mudah terlupakan. Berkata sebahagian salaf,

(كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به)

“Upaya kami dalam menghafal hadits adalah dengan cara mengamalkannya”
[Lihat buku Iqtidha’ Al-Ilmi Al-‘Amal].

Juga sebagaimana yang dikatakan sebahagian ulama:

(من عمل بما علم أورثه الله علم ما لم يعلم،

ومن لم يعمل بما علم أوشك الله أن يسلبه ما علم)

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka dikhawatirkan Allah Ta’ala akan menghapus semua ilmunya.”

Sebahagian orang mengatakan bahwa ini adalah hadits [Seperti Al-Baidhawy dalam buku Tafsimya ketika mengomentari Firman Allah [وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطاً مُسْتَقِيماً]. Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim (10/15).]. Padahal yang benar tidaklah demikian, tetapi ini adalah atsar yang disebutkan Syeikhul Islam. [Lihat Silsilatu Ahadits Dha’ifah Karya Al-Albany 4 (1/423, no 422)]

Allah akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui, maknanya ialah bahwa Allah Ta’ala akan menambahkan keimanan dan menerangi bashirahnya serta akan membukakan untuknya berbagai cabang ilmu. Oleh karena itu Anda mendapatkan seorang alim yang beramal akan bertambah ilmunya dan Allah akan memberkahi waktu dan ilmunya. Dalilnya dalam Al-Qur’an, firman Allah :

 وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْواهُمْ

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya. ” [Muhammad : 17]

Berkata Asy-Syaukany :

(زادهم إيماناً وعلمًا وبصيرة في الدين، أي : والذين اهتدوا إلى طريق الخير فآمنوا بالله وعملوا بما أمرهم به زادهم إيماناً وعلمًا وبصيرة في الدين)

Allah akan menambahkan keimanan, ilmu dan pengetahuan mereka dalam agama, yakni orang-orang yang mendapat petunjuk ke jalan yang baik, beriman kepada Allah dan rnengamalkan apa yang diperintahkan akan bertambah keimanan, keilmuan dan pengetahuannya dalam agama.[Fathul Qadir (5/35)]

Hendaklah seorang muslim mengetahui pentingnya mengamalkan ilmunya, karena seorang yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu tersebut akan menjadi penghujat dirinya, sebagaimana hadits Abu Barzah . Rasulullah bersabda:

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع،ومنها : وعن علمه ماذا عمل فيه

Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga ia ditanya tentang empat hal -diantaranya-: tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya.” [Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzy (7/101 Tuhfah) beliau berkata: “hadits hasan shahih. “Lihat Ash-shahihah karya Al-Albany (946). lqtidha Al-Ilmi Al-‘Amal karya Khathib Al-Baghdady (hal 16 dan selanjutnya) . Shahih Targhib Wa Tarhib, (1/125).]

Hadits ini tidaklah dikhususkan untuk ulama saja sebagaimana yang difahami oleh sebahagian orang, tetapi untuk semua orang yang telah mengetahui suatu perkara maka dalam perkara itu hujjah telah ditegakkan terhadap orang tersebut. Jika seseorang mendengar ceramah atau khutbah jum’at yang mengandung peringatan untuk menjauhi maksiat yang ia lakukan, berarti ia telah mengetahui bahwa maksiat yang telah ia lakukan hukumnya haram. Inilah yang dikatakan ilmu. Dan berarti hujjah telah tegak atas orang tersebut. Telah tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ary  bahwa Rasulullah  bersabda:

والقرآن حجة لك أو عليك

“Al-Qur’an adalah hujjah untukmu dan juga dapat menghujatmu” [HR. Muslim 3/101, ini adalah bagian dari hadits yang panjang.]

Sumber :

Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Syarah Ushuluts Tsalatsah oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Iklan

One comment on “Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah | Kewajiban Mengamalkan Ilmu

  1. Ping-balik: Guru Memang tidak Berjasa | Ruangréka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s