Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah | Ilmu Yang Wajib Untuk Diketahui


Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi :

أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل : ( الأولى) العلم وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة

Bahwasanya wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu: (Pertama)  Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya…

Perkataan penulis:

Bahwasanya wajib bagi kita mempelajari empat perkara: Yang pertama Al-‘Ilmu,...”

Kewajiban itu ada dua : Wajib ‘Ain dan Wajib Kifayah. Yang dimaksud dengan wajib di sini adalah wajib ‘ain, yaitu sesuatu yang wajib dikerjakan oleh setiap orang muslim yang sudah mendapat beban hukum (mukallaf). Adapun Wajib Kifayah yaitu sesuatu kewajiban yang bilamana telah ada sebagian kaum muslimin yang menunaikannya maka kewajiban tersebut gugur bagi yang lainnya, adapun bila tidak ada seorang pun yang menunaikannya maka seluruhnya berdosa.

Ta’allum adalah mencari ilmu, sedangkan ilmu adalah mengetahui petunjuk dengan dalilnya.

Yang dimaksud dengan ilmu disini ialah ilmu syar’i. Yakni sesuatu yang hukumnya fardhu ‘ain memperlajarinya. Yaitu segala ilmu yang dibutuhkan oleh para mukallaf (orang yang sudah terkena kewajiban syari’at) dalam permasalahan agamanya. Seperti landasan keimanan, syariat-syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dihindari, hal-hal yang dibutuhkan dalam bab mu’amalah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perkara-perkara yang tidak sempuma suatu kewajiban kecuali dengan perkara itu, maka wajib juga mempelajarinya. [Lihat buku Jami’u Bayani Al-Ilmi Wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barr (hal. 31), Hasyiyah Ibnu Qasim Ala Tsalatsati Al-Ushul (hal. 41)]

Imam Ahmad berkata: “Wajib hukumnya mencari ilmu yang berkenaan dengan hal-hal yang dapat menegakkan agamanya.” Beliau ditanya: “seperti apa misalnya?” Jawab beliau: “sesuatu yang wajib ia ketahui, seperti yang berkaitan dengan shalat, shaum dan masalah-masalah lainnya.” [Al-Furu’ karya Ibnul Muflih (1/525)]

Wajib bagi seorang muslim untuk mengetahui apa-apa yang harus ia lakukan dalam agamanya, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan muamalah. Ia harus bertanya kepada seorang alim dan tidak boleh berpaling dari apa-apa yang telah diwahyukan Allah dan yang dibawa oleh Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wa sallam-. Hendaklah ia menerima nasihat dan senantiasa mentaati kebenaran. Seperti itulah karakter seorang mukmin yang tulen.

Adapun ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah seperti cabang-cabang masalah fikih, detail pendapat-pendapat ulama, per­selisihan dan perdebatan mereka. Hal ini tidaklah wajib diketahui oleh setiap muslim. Jika ada salah seorang ulama yang mengetahuinya, maka bagi yang lain hukum mempelajarinya adalah sunnat (tidak wajib). Dalil yang menunjukkan wajibnya menuntut ilmu adalah hadits dari Anas Bin Malik –radhiyallohu ‘anhu– bahwa Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

Menuntut Ilmu Itu Wajib Atas Setiap Muslim [1]

Syaikh menafsirkan maksud dari ilmu yang harus dipelajari tersebut dengan tiga perkara, beliau berkata “yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.”

Syaikh mengkhususkan tiga perkara ini karena ketiganya merupakan landasan utama yang mana Islam tidak akan tegak kecuali di atasnya.  Dan seorang hamba akan ditanyai tentang tiga perkara ini dalam kuburnya kelak. Seorang manusia jika sudah mengetahui Rabbnya, Nabinya dan agamanya dengan dalil-dalil maka sempur­nalah agamanya. Inilah ilmu syar’i yang harus diketahui.

Perkataan penulis :

ma’rifatullah (Mengenal Allah)

yaitu mengenal Allah merupakan landasan dalam agama Islam. Tidaklah seseorang dikatakan menga­nut Islam dengan sebenar-benarnya, kecuali harus mengenal Allah Ta’ala terlebih dahulu dengan mempelajari ayat-ayat syar’i yang ter­tuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wa sallam– serta mempelajari tanda-tanda kebesaran Allah pada makhluk-Nya. Sebagai konsekuen­si pengetahuan ini seseorang harus menerima dan patuh kepada sya­riat Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.

Perkataan penulis :

ma’rifatu nabiyihi (Mengenal Nabinya)

yaitu mengenal Nabi –shallallohu ‘alaihi wa sallam– ada­lah suatu kewajiban yang dibebankan kepada seorang mukallaf. Me­ngenal Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wa sallam– adalah unsur pokok dalam agama ini, karena beliau adalah penyampai risalah dari Allah Ta’ ala. Pengenalan ini melazimkan seseorang agar menerima semua yang dibawa oleh Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wa sallam– dari Allah Ta’ala berupa hidayah dan agama yang be­nar . [2] Insya Allah secara terperinci akan diterangkan pada saatnya.

Perkataan penulis :

Ma’rifatu Dinil Islam bil Adillah (mengenal Islam dengan dalil-dalilnya).

Islam mempunyai dua makna, umum dan makna khusus, sebagaimana yang tertera dalam beberapa dalil bahwa Islam dikhususkan untuk umat ini saja, dan dalam beberapa dalil lain menunjukkan bahwa Islam sudah ada pada syariat-syariat sebelumnya. Untuk memperjelas permasalahan ini ka­mi nukilkan perkataan Syeikhul Islam yang mengomentari perkara tersebut,[3] yaitu bahwa yang dimaksud Islam dalam pengertian umum adalah: Menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya. Ini adalah agama seluruh para nabi. Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-  berfirman tentang Taurat dan Bani Israil:

يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُواْ

“yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah” [Al-Maidah : 44]

Allah menyebutkan sifat para nabi dari Bani Israil dengan Islam, hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan khusus untuk umat ini saja. Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa Musa berkata kepada kaumnya:

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”

Begitu juga tentang perkataan anak-anak Nabi Ya’ qub:

قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Inilah makna Islam secara umum.

Ada pun makna Islam secara khusus adalah agama yang dengannya Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya Muhammad yang merupakan agama terakhir dan tidak diterima agama apapun selain Islam. Allah berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Dari ayat di atas dapat diambil faidah bahwa Allah telah meridhai Islam sebagai agama umat ini. Dan ini adalah pengertian Islam secara khusus.

Perkataan penulis “dengan berdasarkan dalil-dalilnya..” [الأدلة Al-Adillah] yaitu bentuk jamak dari [دليل dalil]. Lafazh dalil adalah fa’iil bermakna faa’il yaitu ad-dalaalah, artinya petunjuk. Dalil artinya petunjuk untuk mencapai hal yang diinginkan. Dalil tersebut terbagi dua: sam’iy yaitu yang ditetapkan melalui wahyu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ‘aqly (argumentasi logis) yaitu yang diketahui melalui hasil penelitian dan pengamatan. Akan datang pembahasannya pada pertengahan risalah ini.

Dari perkataan Syeikh mengisyaratkan bahwa tidak boleh bertaklid dalam masalah aqidah, dan bahwasanya kita wajib memiliki pengetahuan tentang agama Islam dengan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an, As-Sunnah atau Ijma’.

Sumber : Syarah 3 Landasan Utama karya Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, At-Tibyan Solo.

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.com

Footnote :

[1] Dikeluarkan oleh Ashhabul kutubus sittah, Ibnu Majah (1/81). Abu Ya’la me­ngeluarkan hadits tersebut dalam Musnadnya (no 2837) At-Tabrany dalam Al-Ausath (1/33) dan banyak lagi yang lain. Para ulama berselisih pendapat tentang hadits ini, Sebahagian mereka ada yang menshahihkannya dan ada pula yang mendha’ifkannya. Ibnul Jauzy telah menukil dalam kitabnya Al-‘Ilal (1/66). Perkataan Imam Ahmad: “Menurut kami tidak ada satu hadits pun yang sah dalam bab ini”. Hadits tersebut diriwayatkan dari beberapa orang sahabat Radhiyallahu Anhum. Hadits tersebut juga mempunyai berbagai jalan yang telah dikumpulkan oleh As-Suyuthy dalam juz yang telah tercetak. Ibnul Jauzy telah meriwayatkannya dalam kitabnya Al- ‘Ilal (1 157) melalui empat belas jalan dari Anas Bin Malik lalu ia mengomentarinya. Mudah-mudahan dikarenakan banyaknya jalannya berarti hadits tersebut ada asalnya. Sebahagian Hufazh mutaakhirin menshahihkan hadits tersebut. Ibnu ‘Iraqi berkata dalam Kitabnya Tanzihu syari’ah (1/258): (berkata hafizh Al-Mizzy Asy-Syafi’i: “hadits tersebut mempunyai banyak jalan dari Anas, dengan keseluruhan jalannya, hadits tersebut naik ke derajat hasan…dalam buku Talkhisul Wahiyaat karya Adz-Dzahaby: ia meriwayatkan dari Ali , Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Jabir, Anas, Abi Sa’id dan sebahagian jalan hadits tersebut lebih buruk dari pada sebahagian yang lainnya dan sebahagain ada juga yangbagus. Wallahu ‘alam.

As-Sakhawy dalam Kitabnya Al-Maqashid (hal 275) lebih condong untuk men­shahihkannya. Al-Manawy telah menukil dalam kitabnya Faidhul Qadir (4/354) bahwa As-Suyuthy telah menghasankan hadits tersebut. Di antara ulama yang menshahihkannya adalah Syeikh Nashiruddin Al-Albany dalam Kitabnya Takhrij Ahadits Musykilatul Fakry setelah ia berbicara tetang jalan hadits tersebut lalu memberi komentar bahwa jalan-jalan hadits tersebut saling memperkuat, bahkan ada yang hasan, dan menurutku hadits dengan seluruh jalannya dengan tanpa diragukan lagi naik menjadi shahih.

Berkata As-Sakhawy dalam Maqashid (hal 277) “sebahagian penulis menarn­bahkannya dengan kata wa muslimah , hal ini tidak terdapat dalam periwayatan hadits tersebut, walaupun maknanya benar”

[2] Lihat pada Syarah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin untuk Ushuluts Tsalatsah hal. 13 dan Hasyiyah Ibnu Qasim  (hal. 15)

[3] Majmu’ Fatawa (93/94). Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/377)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s