Penjelasan Kitab 3 Landasan Utama | Muqoddimah | Memulai Dengan Basmalah


Berkata Asy-Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab At-Tamimi :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

“Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Beliau –rahimahullah– memulai kitabnya ini dengan membaca basmalah sebagai bentuk dari meneladani kitabullah yang setiap surat di dalamnya dimulai dengan basmalah, kecuali surat At-Taubah. Hal ini juga merupakan bentuk ittiba’ beliau kepada sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dimana Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dunia beliau memulai surat tersebut dengan ungkapan basmalah. Hal ini juga merupakan kebiasaan para ulama dari masa ke masa, semoga Alloh merahmati mereka semuanya.

Penjelasan Kalimat Basmalah

“Basmalah adalah (ungkapan) seorang hamba yang mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim.” (Aisarut Tafasir 1/11, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, cet. Maktabatul Ulum wal Hikam, Madinah)

Jadi Basmalah adalah sebuah ungkapan, baik berbentuk ucapan maupun tulisan. Orang yang mengucapkan kalimat tersebut baik dengan lisan maupun tulisannya, berarti telah menyebut ungkapan basmalah. Selayaknya kalimat-kalimat thayyibah yang diajarkan oleh Allah dan RasulNya, kalimat basmalah ini diungkapkan bukan tanpa maksud dan tujuan. Seseorang yang mengungkapkannya berarti seolah ia telah mengucapkan dan bermaksud dengan ucapnnya tadi bahwa ia hendak memulai aktivitasnya dengan menyebut nama Allah subhanahu wata’ala serta mengingatNya dengan berharap keberkahanNya, sebelum melakukan kegiatan apa pun, dan dengan senantiasa memohon pertolonganNya dalam segala urusannya, mengharap bantuanNya, sebab Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang Maha kuasa melakukan segala yang dikehendakinya.

Sehingga tatkala seseorang hendak membaca al Qur’an dia berbasmalah, maka maknanya adalah aku mengawali bacaanku dengan memohon keberkahan nama Allah subhanahu wata’ala yang maha pemurah lagi maha penyayang dengan senantiasa memohon pertolonganNya  [Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Aisarut tafasir, 1/11]

Atau bermakna pemberitahuan bahwa sesungguhnya dia memaksudkannya hendak mengungkapkan; ”Aku hendak membaca (surat al-Qur’an ini) dengan menyebut nama Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demikian juga ucapan seorang hamba ‘bismillah” tatkala hendak bangkit untuk tegak berdiri, atau hendak duduk, dan melakukan seluruh aktivitasnya, adalah mengabarkan makna dari maksud ucapannya itu tadi, dan bahwa ia memaksudkan dengan ucapan ‘bismillah’ adalah aku hendak berdiri dengan menyebut nama Allah subhanahu wata’ala, aku hendak duduk dengan menyebut nama Allah subhanahu wata’ala, demikian seterusnya pada seluruh aktivitasnya.[Ibnu Jarir Ath Thobary, Jamiul Bayan An Ta’wili Ayyil Qur’an, Dar Ihyai Turots Al Arobiy, 1/59,]

Jar majrur (بِ اسْمِ) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah :

باسم الله آكل

“Dengan menyebut nama Allah aku makan”.

Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

  1. Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata: “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”.

Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja ‘amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja. Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini. Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi ‘amil kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Lalu mengapa kita katakan : “Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan”?, [jawabannya] karena hal itu lebih tepat kepada yang dimaksud. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

من لم يذبح فليذبح باسم الله

أو قال صلى الله عليه وسلم : على اسم الله

“Artinya : Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah “[Hadits riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Al-Idain, bab : Ucapan Imam dan makmum ketika khutbah ‘ied, no. (985). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : Waktu Udhiyah no. (1), (1960)]

Atau : “Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah” [Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Adz-Dzabaih wa Ash-Shaid, bab : Sabda Nabi, “Sembelihlah dengan menyebut asma Allah”. no. (5500). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : waktu Udhhiyah, no. (2). (1960)] Kata kerja, yakni ‘menyembelih’, disebutkan secara khusus disitu.

Lafzhul Jalalah (الله -Allah).

Allah Merupakan nama bagi Rabbul Alamin, nama ini tidak boleh diberikan kepada selainNya. Nama ‘الله’ merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya). Semua nama dan sifatNya kembali kepada ( mengiringi ) sebutan Allah, seperti ungkapan Ar Rahman ( yang Maha Pengasih ) dan Ar Rahim ( yang Maha Penyayang ) yang terdapat dalam kalimat bismillahirrahmanirrahim. Ibnu Sa’di dalam tafsirnya Taisirul Karimir Rahman berkata : “Allah adalah Zat yang harus dipertuhan dan diibadahi. Dialah yang berhak sebagai satu-satunya yang harus diibadahi, karena semua sifat-sifat ketuhanan sudah tersandar padaNya. Yaitu sifat-sifat yang mulia”.

Ar-Rahmaan (الرَّحْمَنِ)

Yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.

Ar-Rahiim (الرَّحِيم)

Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih saying tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahmaan’ dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahiim’. Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma’ Allah yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini.

Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata : “Ar-rahman (Maha Pengasih) menunjukkan sifat yang ada pada Dzat Allah Ta’ala dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) sifat yang berkaitan dengan objeknya yaitu yang disayangi. Yang pertama sifat dzat dan yang kedua sifat yang berkaitan dengan perbuatan. Yang pertama menunjukkan sifatNya yang Pengasih dan yang kedua menunjukkan bahwa Dia menyayangi makhluk-makhluk dengan memberikan rahmatNya. Jika anda ingin memahami sifat ini maka perhatikanlah firman Allah :

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً

Artinya : “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” [Al-Ahzab : 43]

Juga firmanNya :

إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya : “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” [At-Taubah : 117]

Tidak ada disebutkan dalam Al-Qur’an : “rahmaanu bihim” dari situ dapat diketahui bahwa Ar-Rahman artinya Dia bersifat pengasih dan Ar-Rahim ialah Dia bersifat penyayang dengan memberikan rahmatNya” [Bada-i’ul Fawa-id (1/24)]

Faidah PENTING!

Kasih sayang yang Allah tetapkan bagi diriNya bersifat hakiki berdasarkan dalil wahyu dan akal sehat. Adapun dalil wahyu, seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat Ar-Rahmah (kasih sayang) bagi Allah, dan itu banyak sekali. Adapun dalil akal sehat, seluruh nikmat yang kita terima dan musibah yang terhindar dari kita merupakan salah satu bukti curahan kasih sayang Allah kepada kita.

Sebagian orang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki ini. Mereka mengartikan kasih sayang di sini dengan pemberian nikmat atau kehendak memberi nikmat atau kehendak memberi nikmat. Menurut akal mereka mustahil Allah memiliki sifat kasih sayang. Mereka berkata : “Alasannya, sifat kasih sayang menunjukkan adanya kecondongan, kelemahan, ketundukan dan kelunakan. Dan semua itu tidak layak bagi Allah”.

Bantahan terhadap mereka dari dua sisi.

Pertama : Kasih sayang itu tidak selalu disertai ketundukan, rasa iba dan kelemahan. Kita lihat raja-raja yang kuat, mereka memiliki kasih sayang tanpa disertai hal itu semua.

Kedua : Kalaupun hal-hal tersebut merupakan konsekuensi sifat kasih sayang, maka hanya berlaku pada sifat kasih sayang yang dimiliki makhluk. Adapun sifat kasih sayang yang dimiliki Al-Khaliq Subhanahu wa Ta’ala adalah yang sesuai dengan kemahaagungan, kemahabesaran dan kekuasanNya. Sifat yang tidak akan berkonsekuensi negative dan cela sama sekali.

Kemudian kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya akal sehat telah menunjukkan adanya sifat kasih sayang yang hakiki bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pemandangan yang sering kita saksikan pada makhluk hidup, berupa kasih sayang di antara mereka, jelas menunjukkan adanya kasih sayang Allah. Karena kasih sayang merupakan sifat yang sempurna. Dan Allah lebih berhak memiliki sifat yang sempurna. Kemudian sering juga kita saksikan kasih sayang Allah secara khusus, misalnya turunnya hujan, berakhirnya masa paceklik dan lain sebagainya yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lucunya, orang-orang yang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki dengan alasan tidak dapat diterima akal atau mustahil menurut akal, justru menetapkan sifat iradah (berkehendak) yang hakiki dengan argumentasi akal yang lebih samar daripada argumentasi akal dalam menetapkan sifat kasih sayang bagi Allah. Mereka berkata : “Keistimewaan yang diberikan kepada sebagian makhluk yang membedakannya dengan yang lain menurut akal menunjukkan sifat iradah”. Tidak syak lagi hal itu benar. Akan tetapi hal tersebut lebih samar disbanding dengan tanda-tanda adanya kasih sayang Allah. Karena hal tersebut hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang pintar. Adapun tanda-tanda kasih sayang Allah dapat diketahui oleh semua orang, tidak terkecuali orang awam. Jika anda bertanya kepada seorang awam tentang hujan yang turun tadi malam : “Berkat siapakah turunnya hujan tadi malam ?” Ia pasti menjawab : “berkat karunia Allah dan rahmatNya”

Waktu-Waktu yang Disunnahkan Memabaca Basmalah

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengucapkan basmalah tatkala hendak melakukan sebuah aktivitas. Demikian juga, kalau kita melihat sabda-sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam maka kita pun akan dapati begitu banyak perintah atau minimalnya anjuran beliau untuk mengawali beberapa aktivitas dengan basmalah. Berikut beberapa diantaranya :

1. Hendak berwudhu

Berdasar sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ صَلاَة َلِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak sah sholatnya orang yang tidak berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut asma Alloh kepadanya.” (HR. Ibnu Majah 1/140/399 dan Abu Dawud 1/174/101, dihasankan oleh al-Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 320 dan dalam Irwa’ul Gholil 1/122)

2. Hendak keluar rumah

Berdasarkan hadits dari sahabat Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَي اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِيْنَئِذٍ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ، فَتَتَنَحَّي الشَّيَاطِيْنُ, فَيَقُوْلُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ.

“Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Alloh.’” Maka beliau melanjutkan sabdanya: “Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’” (HR. Abu Dawud 4/325 dan Tirmidzi 5/490. Lihat juga Shohih Tirmidzi 3/151 dan Shohihul Jami’: 6419)

3. Hendak makan

Seperti yang tersebut dalam sebuah hadits dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha yang berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَاليَ، فَإِنَّ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فيِْ أَوِّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلِهِ وَأَخِرِهِ

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Alloh Ta’ala. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Dengan nama Alloh di awal dan di akhir.’” (HR. Abu Dawud 3/347 dan Tirmidzi 4/288 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shohih.” Dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi 2/167 dan dalam Riyadhus Sholihin Kitab Adabuth Tho’am)

4. Hendak menggauli istri

sebagaimana hadits Abdulloh bin Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

أَمَّا لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ يَقُوْلُ حِيْنَ يَأْتِيْ أَهْلَهُ: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، ثُّمَّ قُدِرَ بَيْنَهُمَا فِيْ ذَلِكَ أَوْ قُضِيَ وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا.

“Adapun kalau seandainya salah seorang di antara mereka itu tatkala hendak menggauli istrinya mengucapkan: ‘Dengan menyebut nama Alloh, yaa Alloh jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan itu dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami’, lalu ditaqdirkan dia mendapat anak dari hubungannya tadi itu, tidak akan ada setan yang membahayakan anak itu selamanya.” (HR. Bukhori 1/141 dan Muslim 2/1028)

5. Hendak memasukkan mayit ke dalam kubur

Berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma yang berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu apabila memasukkan mayit ke dalam kuburnya berkata:

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَي سُنَّةِ رَسُوْلِ اللََّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh dan berdasarkan sunnah Rosululloh.” (HR. Abu Dawud 9/32/3197 dan Tirmidzi 2/255/1051 dan Ibnu Majah 1/494/1550, dishohihkan oleh al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hal. 152)

Dan masih banyak lagi tentunya anjuran beliau yang tidak terbatas hanya pada aktivitas yang tersebut di atas saja. Berkata syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi hafizhahullahu ta’ala: “Dianjurkan bagi para hamba agar mengucapkan basmalah ketika hendak makan dan minum, juga ketika hendak memakai pakaian (dan melepasnya). Juga ketika hendak masuk dan keluar masjid, ketika hendak berkendaraan, dan bahkan ketika hendak melakukan setiap hal yang memiliki nilai arti penting.”

Bagaimana kedudukan hadits berikut :

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يَبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

Setiap hal yang memiliki nilai arti penting yang tidak diawali dengan basmalah maka hal itu akan sia-sia dari barokah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ketika ditanya tentang hadits ini  beliau memberikan jawaban sebagai berikut : Para ulama berselisih pendapat tentang keshohihannya, sebagian ahli ilmu menshohihkannya dan bersandar padanya semisal an-Nawawi, dan sebagian yang lain mendho’ifkannya. Akan tetapi, para ulama saling menyampaikan hadits ini dengan penerimaan dan meletakkannya dalam kitab-kitab mereka; hal ini menunjukkan bahwa hadits tersebut ada asalnya, maka yang seyogyanya bagi seseorang berbasmalah pada setiap hal yang penting atau mengawalinya dengan memuji Alloh Azza wa Jalla.” (Kitabul Ilmi, Syaikh Muhammad al-Utsaimin, hal. 153, cet. Daruts Tsuraya Riyadh. Lihat juga Syarah Tsalatsatil Ushul milik beliau juga dengan penerbit yang sama, hal. 17)

Beberapa Faedah dan kandungan Hukum dari “Basmalah

Dengan mentadabburi basmalah, yang merupakan bagian dari al-Qur’an, maka setidaknya kita bisa dapatkan beberapa faedah yang agung lagi utama, di antaranya:

1. Kata بِسْمِ اللهِ terdapat faedah syari’at bertabarruk –mengharapkan barokah- kepada Allah subhanahu wata’ala dengan nama-namaNya yang mana saja, sebab bila seseorang mengucapkan basmalah sebelum beraktivitas ini menunjukkan ia minta keberkahan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan namaNya pada aktivitasnya.

Syeikh Abdurrohman As Sa’di dalam tafsirnya, Taisirul karimirrohman, mengatakan tentang makna berbasmalah ” aku mengawali membaca ini dengan memohon keberkahan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan setiap nama Allah subhanahu wata’ala

2. Kata بِسْمِ اللهِ juga memberi faedah bahwa seseorang itu hanya bertabarruk kepada Allah subhanahu wata’ala saja dan tidak kepada selainNya.

3. Lafzhul jalalah الله , ialah nama yang khusus bagi Allah subhanahu wata’ala, yaitu bermakna Dzat Yang Dipertuhankan, Yang diibadahi, Yang berhak diibadahi sebab keesaanNya, sebab adanya sifat-sifat yang Ia bersifat dengannya berupa sifat-sifat ketuhanan yang merupakan sifat kesempurnaan. [Taisirul karimirrohman, Abdurrohman As Sa’di, Lihat juga Tafsir Ath Thobari 1/ 63]

4. Tetapnya sifat Rohmah bagi Allah subhanahu wata’ala, seperti Alloh firmankan;

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Artinya: Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat”. QS. al An’am[6]:133

5. Pada lafazh الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ terdapat faedah tentang sifat kerohmatan Alloh, الرَّحْمَنُ berarti Dzat Pemilik kerohmatan yang sangat luas, sedangkan الرَّحِيْمُ berarti Dzat Yang memberikan kerohmata-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki.

6. Di antara bentuk kerohmatan Allah subhanahu wata’ala kepada para hamba adalah diperolehnya berbagai kebutuhan hidup di dunia yang mencukupi oleh para hamba ini, bahkan terkadang berlebishan melebihi kebutuhan mereka. Ini adalah kerohmatan Allah subhanahu wata’ala yang bersifat umum bagi seluruh hamba-Nya, yang beriman dan yang tidak beriman.

7. Di antara bentuk kerohmatan Allah subhanahu wata’ala kepada para hamba adalah diperolehnya segala hal yang dibutuhkan untuk kehidupan badan-badan mereka di dunia ini penuh kecukupan, dan di akhirat diberikan sesuatu yang menegakkan din-din mereka. Dan ini adalah kerohmatan Allah subhanahu wata’ala yang bersifat khusus bagi hamba-Nya yang beriman saja.

8. Di antara bentuk kerohmatan Allah subhanahu wata’ala kepada hambaNya yang beriman adalah dianjurkannya mereka berbasmalah, yang berarti dianjurkan untuk mengharapkan barokah Alloh Dzat Yang Maha Rohmat, Yang memiliki keluasan rohmat dan memberikan kerohmatanNya kepada para hambaNya.

9. Diantara faedah yang penting adalah, anjuran berbasmalah merupakan anjuran berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala, dan berdzikir itu adalah salah satu jenis ibadah. Oleh karenanya ia tidak dilakukan kecuali harus sesuai dengan adab-adab berdzikir itu sendiri. Diantaranya tidak dilakukan dengan suara tinggi, tidak pula sekedar di dalam hati. Ia tidak dilakukan serempak bersama-sama sekumpulan jama’ah tertentu, tidak pula dijadikan pembuka acara-acara tertentu dan seterusnya. Sebab itu semua tidak didapati ajarannya maupun contohnya dari rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak layak dilakukan oleh kaum muslimin seluruhnya. Wallohu a’lam.

Inilah beberapa faedah yang bisa kita peroleh dari tadabbur kita terhadap basmalah ini, tentu ini adalah sangat kecil dan sedikit dibandingkan dengan keagungan lafazhnya dan kebesaran maknanya yang sesuai dengan Keagungan Allah subhanahu wata’ala dan KebesaranNya, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, wabillahit taufiq..

Sumber :

Artikel TigaLandasanUtama.Wordpress.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s