Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Sifat-Sifat Allah

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

A. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid.

Kedua : Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Penetapan Sifat-Sifat Allah dan Bantahan terhadap Firqah (Golongan) Jahmiyah.

4. Imam Abu Hanifah berkata:

«لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السُّنَّة والجماعة وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته ورضاه ثوابه، ونصفه كما وصف نفسه أحدٌ صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوًا أحد، حيٌّ قادر سميع بصير عالم، يد الله فوق أيديهم ليست كأيدي خلقه ووجهه ليس كوجوه خلقه»

Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan ridha Allah adalah dua sifat dari sifat-sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan, bahwa murka Allah itu adalah siksa-Nya dan ridha-Nya itu pahala-Nya. Baca lebih lanjut

Aqidah Empat Imam Madzhab : Aqidah Imam Abu Hanifah Tentang Tauhid

AQIDAH IMAM ABU HANIFAH
An-Nu’man bin Tsabit ~rahimahullah~

A. Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid.

Pertama : Aqidah beliau tentang tauhid (pengesaan Allah) dan tentang tawassul syar’i serta kebatilan tawassul bid’i .

1. Imam Abu Hanifah berkata:

«لا ينبغي لأحد أن يدعو الله إلا به والدعاء المأذون فيه المأمور به ما استفيد من قوله تعالى: (وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) [الأعراف: 180] …»

“Tidak pantas bagi seseorang untuk berdo’a kepada Allah kecuali dengan asma’ Allah. Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 11 Peperangan Dengan Bangsa ‘Ajam

11. PEPERANGAN DENGAN BANGSA ‘AJAM

‘Ajam adalah bangsa selain ‘Arab, bentuk tunggalnya ‘ajamiyyun seperti kata ‘arabiyyun bentuk jamaknya ‘Arab.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنَ اْلأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ اْلأُنُوفِ، صِغَارَ اْلأَعْيُنِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ، نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ.

Tidak akan datang hari Kiamat hingga kalian memerangi bangsa Khuz dan bangsa Karman dari kalangan bangsa ‘Ajam, bermuka merah, berhidung hidung pesek, bermata sipit, wajah-wajah mereka bagaikan tameng yang dilapisi kulit dan terompah-terompah mereka terbuat dari bulu.” [Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/604, al-Fat-h).] Baca lebih lanjut

Serial Pengenalan Kitab-Kitab Tafsir 02 : An-Nukat Wal ‘Uyuun (Tafsir Al-Maawardiy)

annukat-wal-uyun

annukat-wal-uyun

Nama Mufassir
Beliau adalah Abu al-Hasan, ‘Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi, al-Bashari, asy-Syafi’i.*

Nama Kitab
Ia menamakan kitab tafsirnya‘an-Nukat Wa al-‘Uyun’.’

Aqidahnya
Beliau seorang Mu’awwil (suka menakwil) yang memuat banyak sekali Ta’wil di dalam kitabnya. Di dalam sebagian tema, ia memiliih pendapat kaum Mu’tazilah, prinsip-prinsip akidah mereka yang rusak serta sepakat dengan mereka dalam masalah takdir. Karena itu, Imam adz-Dzahabi berkata di dalam kitabnya al-Mizan (Mizan al-I’tidal-red), “Shaduq pada dirinya sendiri, tetapi ia seorang penganut Mu’tazilah.”

Sikapnya Terhadap Hadits Dan Sanad
Beliau tidak menyebutkan sanad-sanad dan tidak merujuk riwayat-riwayat yang ada kepada para Mukharrij (pengarang kitab hadits), baik itu para pengarang enam kitab-kitab hadits induk atau pun selain mereka. Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 10 Memerangi Bangsa Turk

10. MEMERANGI BANGSA TURK

Tentang asal-usul bangsa Turk ada beberapa pendapat para ulama, di antaranya:

  1. Mereka adalah keturunan dari Yafits bin Nuh ‘Alaihissalam, dari keturunan inilah Ya’juj dan Ma’juj berasal, mereka adalah anak-anak paman mereka.
  2. Mereka berasal dari anak-anak Qanthura’, nama seorang budak wanita milik Ibrahim al-Khalil Shalawaatullaah wa Salaamuhu ‘alaihi, dan darinya lahir anak-anak yang merupakan nenek moyang bagi bangsa Cina dan Turk.
  3. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka dari keturunan Tubba’.
  4. Dan ada yang mengatakan mereka berasal dari keturunan Afridun bin Sam bin Nuh ‘Alaihissalam.

Dikatakan negeri mereka adalah Turkistan, yaitu daerah antara Khurasan sampai ke Cina bagian barat dan dari bagian utara India sampai ujung al-Ma’mur. [Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/113), Tartiibul Qamuusil Muhiith (III/700), Ma’aalimus Sunan (VI/68), Mu’jamul Buldaan (II/23), an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/153) tahqiq Dr. Thaha Zaini, Fat-hul Baari (VI/104 dan 608), al-Isyaa’ah (hal. 35), dan al-Idzaa’ah (hal. 82).] Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 09 Munculnya Api Dari Hijaz

9. MUNCULNYA API DARI HIJAZ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَـاقَ اْلإِبِلِ بِبُصْرَى.

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga keluar api dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Bushra.” [Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Khuruujun Naar (XIII/78, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/30, Syarh an-Nawawi).]

Bushra dengan huruf ba yang didhammahkan, akhirnya adalah alif maqsuurah, nama sebuah kota yang terkenal di Syam, dinamakan pula Hauran, jarak antara kota tersebut dengan Damasqus adalah tiga malam perjalanan. [Lihat kitab Mu’jamul Buldaan (I/441), Syarh an-Nawawi (XVIII/30), dan Fat-hul Baari (XIII/80).] Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Delegasi Terakhir Quraisy yang Mengunjungi Abu Thalib

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam keluar dari Syi’b (kediaman pamannya, Abu Thâlib) dan melakukan aktivitasnya seperti biasa, sementara kaum Quraisy masih tetap melakukan intimidasi terhadap kaum muslimin dan menghadang jalan Allah meskipun sudah tidak lagi melakukan pemboikotan.

Di sisi yang lain, Abu Thâlib masih tetap melindungi keponakannya, akan tetapi usianya sudah melebihi 80 tahun. Penderitaan-penderitaan dan peristiwa-peristiwa yang begitu besar dan silih berganti sejak beberapa tahun, khususnya pada saat terjadinya pengepungan dan pemboikotan terhadap kediamannya, telah membuat persendiannya lemah dan tulang rusuknyapun patah.

Baru beberapa bulan setelah keluar dari syi’bnya, Abu Thâlib dirundung sakit yang agak payah dan kondisi ini membuat kaum musyrikun cemas kalau-kalau nama besar mereka cacat di mata bangsa Arab andai mereka hanya datang saat kematiannya karena tidak menyukai keponakannya. Untuk itulah mereka sekali lagi mengadakan perundingan dengan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam di sisi Abu Thâlib dan berani memberikan sebagian dari hal yang sebelumnya tidak sudi mereka berikan. Mereka melakukan wifâdah (kunjungan) kepada Abu Thâlib, yang merupakan untuk terakhir kalinya. Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 08 Meratanya Rasa Aman

8. MERATANYA RASA AMAN

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ بَيْنَ الْعِرَاقِ وَمَكَّةَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ ضَلاَلَ الطَّرِيقِ.

‘Tidak akan terjadi Kiamat hingga seseorang yang berkendaraan berjalan di antara Irak dan Makkah tidak merasa takut kecuali (rasa takut) tersesat di jalan.’” [Musnad Ahmad (II/370-371 -dengan catatan pinggir Muntakhab al-Kanz). Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” (Majma’uz Zawaa-id VII/331).]

Hal ini terjadi pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum. Hal itu ketika Islam dan keadilan meliputi seluruh negeri yang ditaklukkan oleh kaum muslimin. Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 07 Munculnya Para Pendusta yang Mengaku Sebagai Nabi

7. MUNCULNYA ORANG YANG MENGAKU SEBAGAI NABI

Di antara tanda-tanda Kiamat yang telah nampak adalah munculnya para pendusta yang mengaku sebagai Nabi. Jumlah mereka mendekati tiga puluh pendusta. Sebagian dari mereka telah muncul pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga pada zaman Sahabat dan orang yang semisal mereka senantiasa muncul.

Batasan di dalam hadits-hadits tersebut tidaklah bermakna bagi setiap orang yang mengaku sebagai Nabi secara mutlak, sebab mereka yang seperti itu banyak dan tidak terhingga, tetapi yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang (mengaku sebagai Nabi) lagi memiliki kekuatan, banyak pengikutnya dan terkenal di kalangan manusia.[Lihat Fat-hul Baari (VI/617).]

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ.

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘dajjal-dajjal’ (para pendusta) yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.” [Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/616, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/45-46, Syarh an-Nawawi).] Baca lebih lanjut

Rukun Kedua : Shalat | Hukum Shalat Jum’at & Keutamaan Hari Jum’at

SHALAT JUM’AT

A. Hukum Shalat Jum’at

Shalat Jum’at wajib bagi kaum lelaki, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentang wajibnya adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumu’ah : 9) Baca lebih lanjut