Kitab Tauhid | BAB 5 : Dakwah Kepada Syahadat ” لا إله إلا الله “

BAB 5
DAKWAH KEPADA SYAHADAT ” لا إله إلا الله “

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين]

“Katakanlah : ”inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf, 108)

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata : ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal –Radhiallahu’anhu– ke Yaman beliau bersabda kepadanya : Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Musyrikin Quraisy Meminta Bantuan Rahib Yahudi

Kaum Quraisy Bingung, Mereka Menghubungi Orang-orang Yahudi

Setelah semua perundingan, negosiasi dan kompromi yang diajukan oleh kaum Musyrikun mengalami kegagalan, jalan-jalan yang ada dihadapan mereka seakan gelap gulita. Mereka bingung apa yang harus dilakukan hingga salah seorang dari syaithan mereka berdiri tegak, yaitu an-Nadlar bin al-Hârits sembari menasehati mereka:

Wahai kaum Quraisy! Demi Allah! sungguh urusan yang kalian hadapi saat ini tidak ada lagi jalan keluarnya.

Ketika masih kecilnya, Muhammad adalah orang yang paling kalian ridlai, paling kalian benarkan ucapannya, paling kalian agungkan amanatnya hingga akhirnya sekarang kalian melihat uban tumbuh di kedua alisnya dan membawa apa yang dibawanya kepada kalian. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Musyrikin Quraisy Menawarkan Negosiasi dan Kompromi Aqidah

Negosiasi dan Kompromi

Manakala kaum Quraisy gagal berunding dengan cara merayu, mengiming-iming serta mengultimatum, demikian juga, Abu Jahal gagal melampiaskan kedunguan dan niat jahatnya untuk menghabisi beliau; mereka seakan tersadar untuk merealisasikan keinginan lainnya dengan cara mencapai jalan tengah yang kiranya dapat menyelamatkan mereka.

Mereka sebenarnya, tidak menyatakan secara tegas bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam berjalan diatas kebathilan akan tetapi kondisi mereka hanyalah –sebagaimana disifatkan dalam firmanNya-

وَإِنَّهُمْ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيبٍ

“sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap al-Qur’an” (Q.S.11/Hûd: 110). Baca lebih lanjut

[TAFSIR AL-MUYASSAR] SURAT AL-LAHAB & AL-KAFIRUN (1)

Tafsir Al-Muyassar Surah Al-Lahab

( 1 ) خسرت يدا أبي لهب وشقي بإيذائه رسول الله محمدا صلى الله عليه وسلم، وقد تحقق خسران أبي لهب.
( 2 ) ما أغنى عنه ماله وولده، فلن يَرُدَّا عنه شيئًا من عذاب الله إذا نزل به.
( 3 ) سيدخل نارًا متأججة، هو وامرأته التي كانت تحمل الشوك، فتطرحه في طريق النبي صلى الله عليه وسلم؛ لأذيَّته.
( 4 ) سيدخل نارًا متأججة، هو وامرأته التي كانت تحمل الشوك، فتطرحه في طريق النبي صلى الله عليه وسلم؛ لأذيَّته.
( 5 ) في عنقها حبل محكم الفَتْلِ مِن ليف شديد خشن، تُرْفَع به في نار جهنم، ثم تُرْمى إلى أسفلها.

Tafsir Al-Muyassar Surah Al-Kafirun Baca lebih lanjut

Serial Pengenalan Kitab-Kitab Tafsir 01 : Jâmi’ al-Bayân Fî Ta`wîl Ayi al-Qur`ân (Tafsir Ath-Thabariy)

Tafsir Ath-Thabari

Tafsir Ath-Thabari

Nama Mufassir
Abu Ja’far, Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabariy, al-Imâm al-‘Allâmah, al-Hâfizh, seorang sejarawah.

Beliau lahir tahun 224 H dan wafat 310 H.

Nama Kitab
Jâmi’ al-Bayân Fî Ta`wîl Ayi al-Qur`ân (Ditulis 270 H)

Spesifikasi Umum
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Ibn Taimiyyah di dalam mukaddimah Ushûl at-Tafsîr, hal.90: ” Ia termasuk kitab tafsir bercorak Ma`tsûr yang paling agung dan paling besar kedudukannya. Beliau telah mengoleksi berbagai ilmu-ilmu al-Qur’an seperti Qirâ`ât (aspek-aspek bacaan), makna-maknanya, hukum-hukum fiqih yang diintisarikan dari ayat-ayatnya, penjelasan makna-makna ayat yang diambil dari bahasa orang-orang Arab, sya’ir dan sebagainya.” Baca lebih lanjut

[TAFSIR AL-MUYASSAR] SURAT AL-FALAQ (1-5) & AL-IKHLASH (1-4)

Tafsir Al-Muyassar Surah Al-Falaq

( 1 ) قل -أيها الرسول-: أعوذ وأعتصم برب الفلق، وهو الصبح.
( 2 ) من شر جميع المخلوقات وأذاها.
( 3 ) ومن شر ليل شديد الظلمة إذا دخل وتغلغل، وما فيه من الشرور والمؤذيات.
( 4 ) ومن شر الساحرات اللاتي ينفخن فيما يعقدن من عُقَد بقصد السحر.
( 5 ) ومن شر حاسد مبغض للناس إذا حسدهم على ما وهبهم الله من نعم، وأراد زوالها عنهم، وإيقاع الأذى بهم.

Tafsir Al-Muyassar Surah Al-Ikhlash Baca lebih lanjut

[TAFSIR AL-MUYASSAR] SURAT AN-NAAS (1-6) & AL-FALAQ (1-2)

Tafsir Al-Muyassar Surah An-Nas

( 1 ) قل -أيها الرسول-: أعوذ وأعتصم برب الناس، القادر وحده على ردِّ شر الوسواس.
( 2 ) ملك الناس المتصرف في كل شؤونهم، الغنيِّ عنهم.
( 3 ) إله الناس الذي لا معبود بحق سواه.
( 4 ) من أذى الشيطان الذي يوسوس عند الغفلة، ويختفي عند ذكر الله.
( 5 ) الذي يبثُّ الشر والشكوك في صدور الناس.
( 6 ) من شياطين الجن والإنس.

Tafsir Al-Muyassar Surah Al-Falaq Baca lebih lanjut

Kitab Tauhid | BAB 4 : Takut Kepada Syirik

BAB 4
TAKUT KEPADA SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendakiNya”. (QS. An Nisa’, 48)

Nabi Ibrahim berkata :

[واجنبني وبني أن نعبد الأصنام]

“ .. Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala”. (QS. Ibrahim, 35) Baca lebih lanjut

Kitab Tauhid | BAB 3 : Barangsiapa Memurnikan Tauhid Pasti Masuk Surga Tanpa Hisab (Perhitungan Amal)

BAB 3
BARANGSIAPA MEMURNIKAN TAUHID
PASTI MASUK SURGA TANPA HISAB (PERHITUNGAN AMAL)

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ](120) سورة النحل

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS, An Nahl, 120)

[والذين هم بربهم لا يشركون]

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun, 59) Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Nafsu Abu Jahal Untuk Menghabisi Rasulullah

Para Petinggi Quraisy Ingin Berunding dengan Rasulullah Sementara Abu Jahal Ingin Menghabisi Beliau

Harapan Quraisy untuk berunding tidak terhenti dengan jawaban dari beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena jawaban tersebut tidak secara terus terang menolak atau menerima. Untuk itu, mereka berurun rembug lalu berkumpul di depan Ka’bah setelah terbenamnya matahari.

Mereka mengirim utusan untuk menemui Rasulullah dan mengajaknya bertemu disana. Tatkala beliau datang ke sana, mereka kembali mengajukan tuntutan yang sama seperti yang diajukan oleh ‘Utbah.

Disini beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal itu sebab beliau sebagai Rasul, hanyalah menyampaikan risalah Rabbnya; jika mereka menerima maka mereka akan beruntung dunia dan akhirat dan jika tidak, beliau akan bersabar hingga Allah Yang akan memutuskannya. Baca lebih lanjut