Kitab Tauhid | BAB 4 : Takut Kepada Syirik

BAB 4
TAKUT KEPADA SYIRIK

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendakiNya”. (QS. An Nisa’, 48)

Nabi Ibrahim berkata :

[واجنبني وبني أن نعبد الأصنام]

“ .. Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala”. (QS. Ibrahim, 35) Baca lebih lanjut

Kitab Tauhid | BAB 3 : Barangsiapa Memurnikan Tauhid Pasti Masuk Surga Tanpa Hisab (Perhitungan Amal)

BAB 3
BARANGSIAPA MEMURNIKAN TAUHID
PASTI MASUK SURGA TANPA HISAB (PERHITUNGAN AMAL)

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

[إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ](120) سورة النحل

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS, An Nahl, 120)

[والذين هم بربهم لا يشركون]

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun, 59) Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Nafsu Abu Jahal Untuk Menghabisi Rasulullah

Para Petinggi Quraisy Ingin Berunding dengan Rasulullah Sementara Abu Jahal Ingin Menghabisi Beliau

Harapan Quraisy untuk berunding tidak terhenti dengan jawaban dari beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam karena jawaban tersebut tidak secara terus terang menolak atau menerima. Untuk itu, mereka berurun rembug lalu berkumpul di depan Ka’bah setelah terbenamnya matahari.

Mereka mengirim utusan untuk menemui Rasulullah dan mengajaknya bertemu disana. Tatkala beliau datang ke sana, mereka kembali mengajukan tuntutan yang sama seperti yang diajukan oleh ‘Utbah.

Disini beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa melakukan hal itu sebab beliau sebagai Rasul, hanyalah menyampaikan risalah Rabbnya; jika mereka menerima maka mereka akan beruntung dunia dan akhirat dan jika tidak, beliau akan bersabar hingga Allah Yang akan memutuskannya. Baca lebih lanjut

Sirah Nabawiyah | Utbah bin Rabi’ah Menemui Rasulullah

Utusan Quraisy menemui Rasulullah

Setelah masuk islamnya dua orang pahlawan yang agung, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallaahu ‘anhuma, awan kelabu mulai menyelimuti kaum Musyrikun dan barulah tersadar dari mabuk mereka yang selama ini digunakan untuk menyiksa kaum Muslimin. Kali ini, mereka berupaya untuk mencari jalan lain, yaitu mengajukan negosiasi dimana mereka akan memenuhi semua tuntutan yang diinginkan oleh beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam asalkan mau menghentikan dakwahnya. Mereka yang perlu dikasihani itu, tidak mengetahui bahwa setiap apa saja yang dapat disinari oleh matahari tidak memiliki nilai sama sekali walau sebesar nyamuk sekalipun dibandingkan dakwah yang beliau emban. Akhirnya, mereka mengalami kegagalan lagi. Baca lebih lanjut

Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Keduabelas]

23. Mendahulukan salam sebelum berbicara.

Adapun para As-Salaf Ash-Shaleh jika mereka saling bertemu, maka mereka mendahulukan salam sebelum bicara dan saling bertanya tentang keadaan mereka dan kebutuhan mereka. An-Nawawi berkata,

“Yang termasuk Sunnah, jika seorang muslim mengucapkan salam sebelum dia berbicara.

Hadist-hadits yang shahih serta amalan ulama Salaf dan ulama kontemporer sudah demikian populernya menyepakati hal itu. Inilah pendapat yang dijadikan acuan dalam pasal pembahasan ini. Adapun hadits, sebagaimana yang telah kami riwayatkan didalam kitab At-Tirmidzi dari Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ucapkan salam sebelum berbicara”. Akan tetapi hadits ini dha’if. At-Tirmidzi mengatakan: “ Hadits ini  hadits munkar”. [Al-Adzkar hal.312] Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 06 H. Mengikuti Perilaku Ummat Terdahulu

H. MENGIKUT PRILAKU UMAT-UMAT TERDAHULU

Di antara fitnah yang besar adalah mengikuti prilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani dan meniru-niru mereka. Sebagian kaum muslimin telah meniru gaya orang-orang kafir, menyerupai mereka, berperangai dengan perangai mereka dan merasa kagum kepada mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّـى تَأْخُذَ أُمَّتِـي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ فَقِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَفَـارِسَ وَالرُّوْمِ، فَقَـالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ.

“Tidak akan datang Kiamat sehingga umatku mengambil jalan orang pada zaman sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, seperti orang-orang Persia dan Romawi?” Lalu beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka.” [HR. Al-Bukhari] [Shahiih al-Bukhari, kitab al-I’tishaam bil Kitaab was Sunnah, bab Qaulun Nabiyyi Latattabi’unna Sunaan man Kaana Qablakum (XIII/300, al-Fat-h)] Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 06 G. Fitnah Jahmiyah dan Mu’tazilah

G. FITNAH PERKATAAN BAHWA AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK

Kemudian datanglah setelah itu fitnah pada zaman ‘Abasiyyah, yaitu fitnah perkataan bahwa al-Qur-an adalah makhluk. Ucapan ini diyakini oleh khalifah ‘Abbasiyyah, al-Ma’-mun, dan dia membela perkataan ini. Faham ini diikuti oleh kelompok Jahmiyyah juga Mu’tazilah yang memprovokasi khalifah untuk meyakininya, sehingga para ulama Islam diuji dengannya. Dengan sebab fitnah itu pula kaum muslimin tertimpa musibah yang besar. Hal itu telah menyibukkan mereka dalam masa yang sangat lama, ditambah lagi dengan banyaknya keyakinan lain yang masuk ke dalam ‘aqidah kaum muslimin.

Demikianlah, fitnah-fitnah yang terjadi sangat banyak, tidak terhitung, dan senantiasa bermunculan, berlanjut juga bertambah. Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 06 F. Perang Al-Hurrah

6.F. PERANG AL-HURRAH

Kemudian fitnah terus-menerus bermunculan setelah itu. Di antara fitnah ini adalah perang al-Hurrah* yang terkenal pada masa Yazid bin Mu’awiyah. Waktu itu kota Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibinasakan dan banyak dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum yang terbunuh.

Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah berkata, “Berkobarlah fitnah yang pertama, maka tidak seorang pun tersisa dari Sahabat yang ikut dalam perang Badar. Kemudian terjadilah fitnah yang kedua, maka tidak tersisa seorang pun dari Sahabat yang ikut dalam perang al-Hudaibiyyah.” Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 06 E. Munculnya Kaum Khawarij

6.E. MUNCULNYA KAUM KHAWARIJ

Di antara fitnah-fitnah yang terjadi adalah munculnya kaum Khawarij (kaum yang memberontak) kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu. Awal kemunculannya adalah setelah berakhirnya perang Shiffin dan kesepakatan antara penduduk Irak dan Syam untuk mengangkat juru damai antara kedua kelompok. Di tengah perjalanan kembalinya ‘Ali Radhiyallahu ke Kufah, kaum Khawarij memisahkan diri darinya -padahal sebelumnya mereka bersama pasukannya- dan mereka singgah pada suatu tempat yang bernama Harura’, yaitu sebuah desa berjarak 2 mil dari Kufah. Kepadanyalah kaum Khawarij dinisbatkan, maka mereka disebut juga Haruriyyah, jumlah mereka mencapai 8000 orang, ada juga yang mengatakan 16000 orang, kemudian ‘Ali mengutus Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma kepada mereka. Maka Ibnu ‘Abbas berdialog dengan mereka, sehingga sebagian mereka kembali dan bergabung dengan golongan yang men-taati ‘Ali. Baca lebih lanjut

Tanda-Tanda Kecil Kiamat | 06 D. Tragedi Perang Shiffin

6.D. PERANG SHIFFIN

Di antara fitnah yang terjadi antara para Sahabat Radhiyallahu anhum selain perang Jamal adalah apa yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ، يَكُـونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ، دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ.

Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga dua kelompok besar berperang, di antara keduanya terjadi peperangan yang sangat besar, padahal seruan (dakwah) mereka itu sama.” [Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab (tanpa bab) (XIII/8, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/12-13, Syarh an-Nawawi).]

Dua kelompok itu adalah kelompok ‘Ali dengan orang-orang yang bersamanya dan kelompok Mu’awiyah dengan orang-orang yang bersamanya, sebagaimana diungkapkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari.[Fat-hul Baari (XIII/85)] Baca lebih lanjut