Adab-Adab Salam Dan Mengucapkan Salam [Bagian Kesebelas]

20. Menjawab salam kepada orang yang mengirimkan salam kepadanya dan kepada yang dititipi salam.

Perkara ini telah diterangkan didalam As-Sunnah.

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ( إن أبي يقرئك السلام، فقال: (( عليك وعلى أبيك السلام))

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sesungguhnya Ayahku menitipkan salam kepada anda “, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ ’Alaika dan ‘ala Abiika as-salam”. [ HR. Abu Daud (5231) dan Al-Albaniy menghasankannya , Ahmad (22594)]

Dan pada hadits ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

إن النبي صلى الله عليه وسلم قال لها : إن جبريل يقرأ عليك السلام. قالت: وعليه السلام ورحمة الله

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Jibril menitipkan salam kepadamu” Aku berkata, “Wa’alaihis-salam warahmatullah”.[HR. Al-Bukhari (6253)] Baca lebih lanjut

Al-Mahruumuun, Orang-Orang yang Tidak Akan Dilihat oleh Allah Pada Hari Kiamat

Segala puji bagi Allah subhaanahu wata’ala semata. Shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada nabi setelah beliau. Amma ba’du:

Tidak ada satu kebaikan pun kecuali Islam telah menunjukkannya dan mendorong kita untuk melakukannya. Dan tidak ada sebuah kejelekan pun kecuali Islam telah memperingatkan kita dan melarang kita darinya, menjelaskan kepada kita hukuman dan akibatnya bagi pelakunya. Maka wajib bagi seorang hamba yang khawatir atas dirinya akan mendapatkan akibat yang buruk, untuk mengetahui sesuatu yang akibatnya adalah kebinasaan. Dengan demikian dia bisa meninggalkannya dan menjauhkan diri darinya, serta mengingatkan keluarga dan saudara-saudaranya agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Nash-nash (dalil-dalil agama) telah banyak menyebutkan tentang segolongan kaum muslimin yang diancam oleh Allah subhaanahu wata’ala dengan berbagai jenis hukuman kepadanya karena melakukan sebagian maksiat. Hal itu menunjukkan kemarahan Allah subhaanahu wata’ala kepadanya, kebencian Allah subhaanahu wata’ala atas perbuatannya dan jeleknya kemaksiatan yang dia lakukan. Di antara hukuman tersebut adalah apa yang disebutkan oleh sejumlah dalil tentang segolongan orang yang tidak akan dilihat oleh Allah subhaanahu wata’ala pada hari Kiamat, dan terkadang Allah subhaanahu wata’ala menggabungkannya dengan tidak akan berbicara kepada mereka, tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Oleh karena itu wahai orang-orang berakal yang mendapatkan taufiq! Telah datang kepada kalian peringatan, maka wajib bagi kalian untuk mendengar dan mempelajarinya. Kemudian berhati-hatilah supaya tidak terjerumus ke dalamnya, agar tidak mendapatkan hukuman seperti tersebut di atas. Semua perbuatan itu termasuk dosa besar yang wajib bertaubat darinya. Selanjutnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk melindungi keluarga dan saudara kalian darinya, sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6) Baca lebih lanjut

Rukun Keempat : Shiyam | Yang Dibolehkan Bagi Yang Berpuasa

HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN DALAM PUASA

Orang yang berpuasa dibolehkan melakukan berikut

1. Berendam atau menyelam dalam air atau menyiramkan air ke tubuh karena cuaca sangat panas. Berdasarkan ucapan Aisyah

أنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصبِحُ جُنُبًا وَ هُوَ صَائِمٌ ثُمَّ يَغتَسِلُ

“Bahwa Nabi di waktu Shubuh berada dalam keadaan junub sedang beliau berpuasa kemudian beliau mandi. “ (Muttafaq `alaih)

Begitu juga sebagaimana yang dilakukan Rasulullah

يَصُبُّ عَلَى رَأسِهِ الـمَاءَ وَ هُوَ صَائِمٌ مِنَ العَطَشِ أو مِنَ الحَرِّ

“Beliau mengguyurkan air ke atas kepalanya sewaktu ia berpuasa, disebabkan haus atau kepanasan” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan lain-lain. Hadits ini shahih) Baca lebih lanjut

Rukun Keempat : Shiyam | Hal-hal Yang Membatalkan Puasa

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Terdapat beberapa hal yang dapat membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha saja dan terdapat beberapa hal yang dapat membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha serta kafarat.

A. Hal-hal yang membatalkan puasa dan karenanya wajib qadha saja.

1. Makan dan minum dengan sengaja. Jika ia makan atau minum karena lupa atau terpaksa maka ia tidak wajib qadha,  berdasarkan sabda Rasulullah:

مَن نَسِيَ وَ هُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أو شَرِبَ فَليُتِمَّ صَومَهُ فَإنَّمَا أطعَمَهُ اللهُ وَ سَقَاهُ

“Barangsiapa yang lupa padahal ia berpuasa lalu ia makan atau minum maka hendaklah ia lanjutkan puasanya, karena ia diberi makan dan minum oleh Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Seseorang yang makan atau minum atau bersenggama, karena ia menduga bahwa matahari telah terbenam, kemudian ternyata dugaannya itu salah yaitu masih siang. Baca lebih lanjut

Rukun Keempat : Shiyam | Yang Dimakruhkan Ketika Berpuasa

HAL-HAL YANG MAKRUH DALAM PUASA

Ada beberapa hal yang makruh bagi orang yang berpuasa yang dapat merusak puasanya, meskipun pada dasarnya hal-hal tersebut tidak merusak puasa, seperti:

1. Berlebih-lebihan dalam berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika berwudhu. Berdasarkan sabda Rasulullah

وَ بَالِغ فِي الإستِنشَاقِ إلَّا أن تَكُونَ صَائِمًا

“Dan keraskanlah dalam menghisap air di hidung kecuali engkau sedang berpuasa.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan lain-lain. Hadits ini shahih)

Dikhawatirkan terdapat sesuatu yang masuk ke lubang hidung, yang dapat merusak puasanya.

2. Mencium, bagi yang tidak mampu mengekang nafsunya, atau meraba-raba dan mencumbui tubuh istrinya. Baca lebih lanjut